Saat Bimbang

Rabu, 27 Agustus 2008

 

Bacaan : Mazmur 73:1-5, 21-26

73:1. Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.

 

73:2 Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.

 

73:3 Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.

 

73:4 Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka;

 

73:5 mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.

 

73:21. Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya,

 

73:22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu.

 

73:23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.

 

73:24 Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.

 

73:25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.

 

73:26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.

 

 

Saat Bimbang

 

Aku memanggil-Mu, ingin bergantung pada-Mu, tetapi Engkau tak menjawab. Aku sendirian… di mana imanku? Yang ada hanya kehampaan dan kegelapan.” Demikianlah Ibu Teresa menuliskan salah satu suratnya. Ketika surat-surat pribadinya dipublikasikan, orang kaget. Tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang rohaniwan  seperti dia bisa mengalami kebimbangan hidup? Bahkan meragukan imannya? Bukankah dunia mengenalnya sebagai tokoh yang begitu mencintai Tuhan dan sesama?

 

Hal ini tidak mengherankan. Pemazmur pun pernah bimbang akan kehadiran Tuhan. “Seperti hewan aku di dekat-Mu,” katanya. Anjing peliharaan hanya paham beberapa instruksi tuannya. Pengertiannya terbatas sekali. Tak bisa ia memahami maksud sang tuan sepenuhnya. Seperti itulah kondidi pemazmur. Ia tak mengerti, mengapa Tuhan membiarkan orang jahat hidup  enak dan jaya. Ia yang hidup bersih justru “nyaris tergelincir”. Namun ia bertekad “aku tetap di dekat-Mu.” Itulah yang membuatnya tetap bertahan di masa bimbang. Akhirnya, pelan-pelan Tuhan membukakan rencana-Nya dan membuat ia mengerti maksud-Nya.

 

Saat hidup tampak tak adil, bisa jadi kita pun bimbang. Merasa Tuhan seolah-olah tak ada dan tak berkuasa. Kita meragukan pimpinan-Nya. Ini wajar. Tiap orang percaya pernah mengalaminya. Yang penting bagaimana sikap kita ketika menjalani masa itu.

 

Dalam kebimbangan, Ibu Teresa tetap giat melayani sesama. Pemazmur memilih tetap mendekat pada Tuhan. Kita pun dapat memilih tetap mendekat pada Tuhan. Kita pun dapat dapat memilih untuk tetap ada di jalan-Nya, sekalipun ada saat di mana hadir-Nya tidak nyata terasa-JTI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: