Kebahagiaan Sejati

Sabtu, 23 Agustus 2008

 

Bacaan : Matius 5:1-12

5:1. Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

 

5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

 

5:3. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

 

5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

 

5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

 

5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

 

5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

 

5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

 

5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

 

5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

 

5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

 

Kebahagiaan Sejati

Dalida adalah ratu kecantikan Mesir tahun 1995, ia kemudian hijrah ke Paris. Di sana ia berhasil menjadi penyanyi dan pemain film terkenal. Kariernya sukss, kekayaannya melimpah. Namun, toh Dalida merasa hidupnya sangat malang. Suaminya, Lucian Morisse, meninggal karena bunuh diri. Begitu pula Luigi Tenco, kekasihnya. Kenyataannya itu membuat Dalida sangat terpukul. Akhirnya di tengah ketenaran dan kekayaannya, ia memutuskan untuk bunuh diri. Ia menulis sepucuk surat “Beban hidup sungguh tak tertanggungkan.” Begitulah, keberhasilan lahiriah bukan jaminan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak diukur oleh seberapa besar kekayaan dan popularitas yang kita miliki.

 

Bacaan hari ini merupakan bagian dari khotbah Yesus di bukit (Matius 5:7) di bawah judul Ucapan Bahagia. Berulang-ulang dikatakan “berbahagialah”, yang dalam bahasa Yunaninya: makarios, yaitu kebahagiaan yang lengkap, utuh, sempurna. Itulah kebahagiaan sejati.

 

Bagaimana meraihnya?

1. Hidup sepenuhnya mengandalkan kekuatan Allah (ayat 3)

2. Selalu bersedia peduli dan berbagi dengan sesama(ayat 4)

3. Rendah hati dan panjang sabar (ayat 5)

4. Gigih berjalan dalam kebenaran, apa pun risiko yang harus ditanggung (ayat 6,10).

5. Menjaga hati, menjauhi sikap bermusuhan, berpikiran buruk terhadap orang lain (ayat 8,9).

 

Jadi jelaslah bahwa kebahagiaan sejati tidak tergantung pada hal-hal di luar diri, seperti kekayaan, popularitas, dan jabatan. Kebahagiaan sejati bersemi dalam hati, dan memancar keluar, dalam tindakan dan ucapan-AYA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: