Kelompok Peninju Dinding

Jumat, 1 Agustus  2008

 

Bacaan : Yakobus 1:1-8

1:1. Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.

 

1:2. Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

 

1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

 

1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

 

1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya.

 

1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

 

1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

 

1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

 

 

Kelompok Peninju Dinding

 

Saya tak akan pernah lupa satu kejadian saat kuliah dan tinggal di asrama. Setelah selesai menulis laporan penting yang harus dikumpulkan esok harinya, saya mendengar kericuhan di ruang seberang aula. Rekan sebelah kamar saya sangat panik sehingga melemparkan barang-barangnya saat mencari kertas laporannya. Karena frustasi, ia meninju lemari dan berteriak,”Terima kasih, Allah. Kau menciptakan hidup yang sangat konyol!”

 

Mungkin saya akan memberinya nilai A+ untuk bidang teologi – setidaknya ia tahu bahwa Allah-lah yang memegang kendali. Namun, saya akan memberinya nilai F atas tanggapannya terhadap masalah tersebut.

 

Bila kita marah kepada Allah karena hidup berjalan dengan tidak menyenangkan, kita perlu menjalani terapi alkitabiah secara teratur. Jadi, selamat datang dalam “Kelompok peninju dinding” – untuk mempelajari program 2 langkah tentang menanggapi penderitaan secara positif dan menghormati Allah.

 

Langkah pertama: Pikirkan masalah itu. Tidak hanya tak terelakkan, masalah juga tidak pandang bulu. Masalah datang dalam berbagai bentuk dan ukuran. “Berbagai-bagai pencobaan” (Yakobus 1:2) mempengaruhi kesehatan, karier dan hubungan kita. Saat kita mampu memahami kenyataan, kita mulai dapat menghargai nilai penting permasalahan itu dalam kehidupan kita.

 

Langkah kedua: Buanglah penolakan dan amarah, gantilah dengan sikap menerima dan bersukacita. “Anggaplah sebagai kebahagiaan” (ayat 2). Sukacita ini muncul bukan karena adanya rasa sakit, melainkan karena kita sadar Allah memakai rasa sakit itu untuk memurnikan dan menjadikan kita lebih baik, bukan lebih pahit-JMS.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: