Behind Enemy Lines

Jumat, 25 Juli 2008

 

Bacaan : Amsal 16:1-6

16:1. Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN.

 

16:2. Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.

 

16:3. Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.

 

16:4. TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.

 

16:5. Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman.

 

16:6. Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan.

 

 

Behind Enemy Lines

 

Pada tahun 2001, ada sebuah film berlatar belakang perang Bosnia yang dibintangi oleh Gene Hackman dan Owen Wilson. Judulnya Behind Enemy Lines. Fiilm bercerita tenatng Letnan Chris Burnett yang pesawatnya ditembak jatuh oleh pasukan Serbia. Ia dapat selamat karena kursi pelontarnya. Sayangnya, ia jatuh di daerah musuh. Burnett terpaksa harus berupaya keras menyelamatkan dirinya dari kejaran dan incaran musuh. Tidak jarang ia hampir terbunuh oleh sniper (penembak jitu) atau serangan bom.

 

Terkadang kita juga berada di tengah lingkungan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan, bertemu dengan orang-orang yang selalu berseberangan, bekerja dengan orang yang kasar dan “semau gue”, melayani bersama orang yang suka menyinggung, tetapi mudah tersinggung. Waktu dan tenaga kita teruras hanya untuk meladeni orang-orang “sulit” ini. Keadaan ini tak jarang membuat frustasi. Serasa terjebak di “behind enemy lines. Di belakang garis musuh.

 

Namun, saat Tuhan mengizinkan orang-orang hadir dalam kehidupan kita, maka pasti ada tujuannya. Begitu juga kehadiran orang-orang “sulit” di perjalanan hidup kita. Dari mereka, setidaknya kita belajar tentang kesabaran, kerendahan hati dan penguasaan diri. Sekaligus kita bisa bercermin, betapa buruknya kita bila menjadi orang seperti itu, kita diingatkan untuk tidak menjadi orang sulit bagi orang lain. Sesekali, dengan berhadapan dan hidup bersama mereka,kita pun menjadi lebih objektif dalam memandang mereka; tidak lagi dengan kekesalan, tetapi dengan simpati dan empati-AYA.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: