Kalap

Rabu, 16 Juli 2008

 

Bacaan : 2 Raja-raja 6:14-18

6:14 Maka dikirimnyalah ke sana kuda serta kereta dan tentara yang besar. Sampailah mereka pada waktu malam, lalu mengepung kota itu.

6:15 Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?”

6:16 Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.”

6:17 Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.

6:18 Ketika orang-orang Aram itu turun mendatangi dia, berdoalah Elisa kepada TUHAN: “Butakanlah kiranya mata orang-orang ini.” Maka dibutakan-Nyalah mata mereka, sesuai dengan doa Elisa.

 

 

 

Kalap!

 

Ketika berjalan memasuki kantor, Eddy menyenggol ujung meja seorang teman yang memegang posisi mejanya agak miring. Karena kesaktan, Eddy menjadi marah. Dalam kondisi marah, ia kemudian menjadi kalap dan menyalahkan temannya yang tidak menyusun mejanya dengan benar. Sikap kalap membuatnya tidak tenang, over reaktif, sehinga ia tidak dapat melihat apa yang sesungguhnya terjadi dengan mata jernih.

Bujang Elisa juga bersikap kalap ketika mendapati dirinya dan Elisa, tuannya dikepung oleh pasukan raja Aram. Sikap reaktif membuatnya panik dan ketakutan, bahkan mengeluarkan kalimat putus asa (ayat 15). Hal ini menghalanginya untuk melihat bahwa pertolongan Tuhan ada di sekelilingnya (ayat 17). Sebaliknya, Elisa memiliki kepercayaan yang besar kepada Allah yang dapat diandalkan. Dengan begitu ia bersikap tenang, bahkan berdoa meski ia ada dalam situasi yang dama dengan bujangnya.

Kalap membuat hati kita bergejolak dan tidak dapat berpikir jernih. Dalam kondisi demikian, sangat mungkin kita mengambil tindakan yang salah. Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak kalap, meskipun tekanan datang tanpa dapat diduga? Pemazmur membukakan sebuah sikap yang indah, yaitu “diam”. Diam dan tenang di hadapan Allah akan menolong kita untuk tidak bersikap kalap dalam menghadapi tekanan.

Doa bukan sekadar waktu untuk berbicara dengan Tuhan. Doa juga merupakan waktu untuk menenangkan diri di hadapan-Nya dan melihat Dia berkarya melalui keadaan yang sulit sekalipun.

 

Hari ini bila situasi hidup menekan Anda, ambillah pilihan untuk berdoa-RY 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: