Penyakit kemakmuran

Sabtu, 12 Juli 2008

 

Bacaan : Lukas 12:13-21

12:13. Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”

12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”

12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.

12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.

12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.

12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!

12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

 

Penyakit Kemakmuran

 

Karena orang-orang dari kalangan atas suka memborong Blackberry (alat nirkabel untuk email dan telepon) dan televisi layar datar, kita tak dapat menyangkal adanya peningkatan kemakmuran di berbagai belahan dunia. Anda dapt menyebutnya sebagai “penyakit kemakmuran”. Namun, ada satu kekhawatiran di tengah kemakmuran itu. “Inilah teka-teki ekonomi zaman kita,” kata Robert J Samuelson di surat kabar The Washington Post. Saya ingin tahu apakah hidup seperti ini benar, sebab kita berusaha untuk menemukan ketentraman jiwa dengan memiliki “lebih banyak barang”- barang yang bersifat sementara dan cepat lenyap.

Alkitab menyebut keinginan mengejar lebih banyak harta sebagai “ketamkan”. Yesus memperingatkan para pengikut-Nya tentang keserakahan dengan menceritakan kisah seorang kaya. Masalah orang kaya ini bukan karena ia mempunyai hasil bumi yang melimpah, atau karena ia memutuskan membangun lumbung yang lebih besar (Lukas 12:16-18). Masalahnya adalah ia menginvestasikan seluruh hidupnya untuk harta (ayat 15). Ia meraih rasa aman dari harta bendanya tetapi gagal menjadi “kaya di hadapan Allah” (ayat 21). Menolak pengetahuan dan ajaran Allah sebagai dasar hidup adalah perbuatan bodoh orang kaya itu. Ia hidup pada saat itu dan menggangap masa depannya sudah terjamin dengan banyaknya harta (ayat 19,20).

“Hidup yang baik” tidak dapat ditemukan dalam harta yang melimpah. Kita tak dapat menemukan ketentraman hati dengan memborong “lebih banyak harta”. Kita hanya dapat memperoleh kepuasan sejati dengan menginvestasikan sumber penghidupan serta hidup kita dalam dan untuk kerajaan-Nya.-MLW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: