Sapaan Damai

Rabu, 18 Juni 2008

Sapaan Damai                                                        Bacaan : Yakobus 3:13-18

 

3:13. Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.

3:14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!

3:15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.

3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.

 

Sapaan Damai

Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Korea Utara sejak perang Korea lebih dari setengah abad lalu, tidak pernah reda. Bahkan, isu nuklir Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir membuat hubungan mereka semakin kritis. Upaya diplomasi melalui perundingan berjalan sangat alot.

Atas prakarsa bersama, rombongan musik New York Philharmonic dari Amerika, mengelar konser musik di Teater Agung Pyongyang, ibukota Korea Utara, pada tanggal 26 Februari 2008. konser yang diusung oleh tim berjumlah 350 orang itu mendapat sambutan luar biasa. Banyak orang yang menyaksikan langsung atau melalui siaran televisi, terharu dan meneteskan air mata. Konser itu berhasil merengkuh hati warga Korea. Rupanya cara ini telah menjadi sapaan damai yang lebih ampuh ketimbang gunboat diplomacy atau diplomasi ancaman perang dan ancaman embargo.

Di dunia ini, sebuah dalil berkata,”Untuk menegakkan perdamaian, kita harus siap berperang.” Namun kiranya dalil ini tak dianut oleh anak-anak Tuhan yang memiliki hikmat “dari atas”. Firman Tuhan mengajak kita untuk menegakkan perdamaian dengan cara yang berkebalikan dengan dalil dunia; kita harus menunjukkan kelemahlembutan (ayat 13)! Kita juga harus rela menghilangkan segala keirihatian, egoisme, dan sifat memegahkan diri-yang kerap menjadi pemicu ketidakdamaian (ayat 16). Selanjutnya kita diminta untuk memiliki hati yang murni, pendamai, peramah … (ayat 17). Melalui jalan inilah kita akan menuai damai (ayat 18). Inilah tantangan kita hari ini; menjadi pembawa damai di mana pun kita berada-NDA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: