Apakah buah kita?

Sabtu, 10 Mei 2008

 

Bacaan : Galatia 5:19-26

 

19: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

20: penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

21: kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu telah kuperingatkan kamu – seperti yang telah kubuat dahulu – bahwa barangsiapa melakukan hal-hal demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

22: Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

23: kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

24: Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dan dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

25: Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

26: dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

 

Apakah buah kita?

 

Kerap kali orang secara keliru menyebut “buah-buah” Roh. Sesungguhnya Paulus tidak menulis agar orang Kristiani mempunyai “buah-buah” Roh (jamak), tetapi “buah” Roh (tunggal, dari kata karpos). Memang ekspresinya bisa beragam: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tetapi, semuanya itu adalah satu. Konsekuensinya, kita tidak dapat membuat ranking (mengutamakan yang satu dan mengabaikan yang lain) atas ekspresi yang banyak ini.

Kita juga tidak dapat mempertentangkan berbagai ekspresi ini. Sungguh aneh, bila seseorang bisa tampak sangat bersukacita, tetapi sekaligus tidak dapat menguasai diri. Memang Paulus tidak bermaksud menyatakan bahwa orang kristiani tidak memiliki kekurangan. Namun, Paulus hendak menekankan bahwa umat kristiani tidak boleh setenga-setengah menangkap karya Roh. Kiat harus terus bekerja sama dengan Roh Kudus untuk mengolah kehidupan rohani secara menyeluruh. Ya, kita dipanggil untuk mengolah seluruh hidup, hati dan realitas kita, secara utuh. Memang perjalanan menuju kehidupan rohani yang menyeluruh tidak segera sempurna, tetapi pada akhirnya kita mesti berjuang agar hidup kita nebjadi kesaksian Kristus dalam segala hal.

Perjuangan kita adalah menjadi utuh, bukan sekadar mengusahakan kesalehan dan karunia yang tampak di depan mata. Karunia itu baik, tetapi apalah arti karunia Tuhan bila kita berbuah busuk? Apalah artinya buah kita tidak matang secara keseluruhan, mentah di sana-sini? Mana enak? DKL

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: